{"id":285,"date":"2019-01-27T10:14:14","date_gmt":"2019-01-27T10:14:14","guid":{"rendered":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/?page_id=285"},"modified":"2026-07-19T01:40:09","modified_gmt":"2026-07-19T01:40:09","slug":"fendi-sang-penggali","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/yayasan\/kreator\/fendi-sang-penggali\/","title":{"rendered":"Fendi sang penggali"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"416\" height=\"555\" src=\"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/profil-poto-fendi.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-401\" srcset=\"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/profil-poto-fendi.jpg 416w, https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/profil-poto-fendi-225x300.jpg 225w\" sizes=\"(max-width: 416px) 100vw, 416px\" \/><figcaption>Kreator kesenian sukuraga dokumen poto , tahun 2010<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Fendi Sang Penggali \u2014 Sang Maestro Sukuraga<br>Effendi lahir di Sukabumi, 16 April 1958. Perjalanannya sebagai seniman berawal dari dunia lukis, sebelum akhirnya menemukan bentuk ekspresi yang benar-benar miliknya sendiri: Wayang Sukuraga. <br>Kini, selain dikenal sebagai budayawan, ia kerap disapa Sang Maestro Sukuraga.<br>Titik balik perjalanannya datang dari sebuah kegelisahan personal. Pada tahun 1980, sang kakek memperingatkannya soal risiko melukis pigur manusia utuh. Kegelisahan itu membawanya pada proses kreatif yang tidak biasa \u2014<br>sejak 1987, ia mulai memisah-misahkan lukisan manusia menjadi bagian-bagian tubuh tersendiri. Dari situ lahir gagasan bahwa setiap anggota tubuh punya &#8220;suara&#8221;, tanggung jawab, dan konsekuensi moralnya sendiri.<br>Gagasan itu menemukan wujud visualnya pada 1993, berkembang menjadi wayang kulit tiga dimensi sejak 1995, dan pertama kali dipentaskan ke publik pada 1996\u20131997. Nama &#8220;Sukuraga&#8221; berasal dari suku (bagian) dan raga (tubuh) \u2014 lakon bagian-bagian tubuh manusia.<br>Berbeda dari wayang tradisional yang menampilkan konflik antar tokoh, Wayang Sukuraga menghadirkan konflik batin antar anggota tubuh \u2014 kepala, tangan, dan kaki saling bertutur, saling mempertanyakan, sebagai cermin pergulatan batin manusia dalam mengendalikan diri dari hawa nafsu. Gagasan sentralnya sederhana namun dalam: manusia adalah dalang bagi tubuhnya sendiri.<br>Pengakuan dan Karya<br>2015 \u2014 Penerima Anugrah Inovasi Jawa Barat, kategori Seni Budaya, untuk karya &#8220;Wayang Sukuraga sebagai Pendidikan Karakter Bangsa&#8221;<br>2016 \u2014 Penulis buku Membentuk Karakter dengan Anggota Tubuh; <br>Wayang Sukuraga resmi diakui sebagai kesenian asli Kota Sukabumi dengan SK Walikota Sukabumi no 55 tahun 2016.<br>2018 \u2014 Bersama Dr. Dyah Lyesmaya, mempresentasikan Wayang Sukuraga di ICEDU, Bangkok, Thailand<br>2021 \u2014 Bersama dosen-dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), menulis buku Mengenal Diri Mengoptimasi Kreasi<br>LPPM Award \u2014 Rumah Budaya Sukuraga dianugerahi sebagai mitra terbaik oleh LPPM UMMI, atas kemitraan berkelanjutan yang hingga kini masih membimbing mahasiswa yang meneliti Wayang Sukuraga untuk skripsi mereka<br>Aktif hingga kini sebagai narasumber di berbagai acara kebudayaan<br>Menjabat sebagai Sekretaris Komisi Kebudayaan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi<br>Pendiri Rumah Budaya Sukuraga dan Kampung Tematik Sukuraga, ruang eduwisata dan laboratorium pembelajaran berbasis alam di tengah ratusan pohon jati<br>Hari ini, Wayang Sukuraga juga hadir dalam bentuk aplikasi Android \u2014 hasil kolaborasi dengan Creacle Studio \u2014 menghadirkan filosofi mengenal diri dalam format simulasi, pengetahuan, dan kuis interaktif bagi anak-anak masa kini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fendi Sang Penggali \u2014 Sang Maestro SukuragaEffendi lahir di Sukabumi, 16 April 1958. Perjalanannya sebagai seniman berawal dari dunia lukis, sebelum akhirnya menemukan bentuk ekspresi yang benar-benar miliknya sendiri: Wayang&hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":25,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-285","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/285"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=285"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/285\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1388,"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/285\/revisions\/1388"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/25"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sukuraga.com\/rumahbudaya\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=285"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}