Kata Mereka

Testimoni dari para akademisi dari berbagai
negara tentang Wayang Sukuraga

Bagaimana menurut Peneliti Akademisi dari Indonesia tentang Wayang Sukuraga .

Dyah Lyesmaya

Dyah Lyesmaya,SS., M.Pd

” KEARIFAN LOKAL YANG TIDAK ADA DI DAERAH LAIN “

Wayang Sukuraga (WS) adalah kearifan lokal Sukabumi yang tidak ada di daerah lain. Bentuk dan isi dari WS merupakan produk inovasi dan pembaruan dari wayang-wayang sebelumnya yang berkembang di Indonesia. Di lihat dari historis geografis, tampilan WS bukan tampilan wayang yang ada di Jawa Barat pada umunya yang terbuat dari kayu (golek). WS memiliki tampilan wayang kulit yang pipih karena memang terbuat dari kulit. Pemberian warna dasar seperti merah, biru, kuning, yang diaplikasikan ke dalam warna wayang membuat  WS selain dapat dinikmati berupa pagelaran wayang kulit berupa bayangan, juga dapat disaksikan secara langsung tanpa harus menggunakan sorotan lampu ke layar. Tampilan dari WS juga tidak sama seperti wayang pada umumnya, WS adalah Wayang Anggota tubuh dimana tampilan wayang adalah representasi dari anggota tubuh dan panca indera. Selain itu, pengiring musik pada pagelaran yang memadukan instrumen musik modern dan gamelan, menjadikan WS sebagai wayang yang mengajak untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan dan perubahan dimana kita tidak boleh alergi terhadapnya tetapi harus dapat memanfaatkan kebaruan untuk kemaslahatan bersama. Terdapat sembilan tokoh WS yaitu Mata, Telinga, Hidung, Mulut, Tangan, Kudu leumpang (harus berjalan/Kaki), Payudara, Vagina, dan Penis. Ciri khas yang menjadi inovatif adalah pada setiap tokoh WS, pada bagian kelapa, tangan dan kaki akan merefleksi tokoh tersebut. Contohnya, bila tokoh tersebut adalah tokoh Mata, maka pada bagian kepala, tangan dan kaki bergambar hanya sebuah mata. Penempatan ini terinspirasi dari Al-Quran surat Yassin ayat 65 dimana yang akan bersaksi pada akhirnya bukanlah mulut yang merepresentasikan anggota tubuh yang dapat bicara, melainkan amal perbuatan kita. Saat itu lah tangan, kaki, dan anggota tubuh yang lain akan dapat berbicara dan juga memberi kesaksian. Inilah salah satunya yang menjadikan WS memiliki nilai filosofis sebagai wayang kontemplatif (perenungan manusia terhadap dirinya). Dari aspek bentuk, dengan pemilihan kulit sebagai media wayang, mempunyai arti bahwa terkadang manusia hanya melihat kulitnya saja/permukaan saja dari seseorang. Padahal, kita harus mengenal orang lebih dalam dan jangan menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja. Bentuk tokoh WS yang menggambarkan tokoh pada kepala, kaki, dan tangan merupakan bentuk kesadaran integritas manusia yang harus selalu memikirkan (kepala) melangkahkan (kaki), dan melakukan perbuatan (tangan) sebelum mengambil tindakan/laku. Secara cerita dan pesan yang ingin disampaikan, WS tidak memunculkan konflik manusia berupa interaksi manusia dengan manusia tetapi lebih kepada konflik batin antara tokoh anggota tubuh. Bagaimana tangan harus berpikir dahulu sebelum mengambil sesuatu.

  • Dyah Lyesmaya adalah seorang Dosen dari Universitas Muhammadyah Sukabumi ( UMMI ) yang konsen penelitiannya tentang wayang Sukuraga yang mengembangkan bahan ajar yang berbasis wayang sukuraga ini .agar dapat di ajarkan disekolah sekolah Dasar di seluruh Indonesia. Dan beliau adalah salahsatu yang mengenalkan mempresentasikan nya pada ICEDU 2018. di Bangkok.